The Sydney Town Hall is a landmark sandstone building in Sydney
Sebagai orang Indonesia. Di sini kan pendatang lumayan banyak dari mana saja, terutama orang Asia banyak banget di sini. Jadi sebenarnya orang-orang di Sydney secara general sangat menerima perbedaan. Walau terkadang emang ada juga yang menganggap orang Asia termasuk orang Indonesia itu kaya gak bisa apa-apa. Dianggap “lemah” atau gak berani “speak up”, jadi terkadang suka disepelekan. Walau gak semua yaa. Apalagi baru-baru ini ada berita heboh tentang klinik pijat yang dituntut, dikarenakan kesalahan teknik pijat dari salah satu pegawainya yang berakibat fatal. Di sini khan kebanyakan klinik pijat pegawainya orang Asia, ternyata setelah ditelusuri si terapi pijatnya itu tidak bisa berbahasa Inggris yang baik dan benar, jadi ketika si pelanggan menjelaskan mana yang sakit, si terapis tidak paham. Jadi ada sebagian orang-orang sini yang menganggap orang Asia itu “bodoh”.
Tentang I’ll Ride With You. Pasca kejadian teror dan penyanderaan selama hampir 16 jam di Lindf cafe Sydney pada bulan Desember 2014 yang lalu, beberapa konsekuensi dan sindiran negatif yang tidak mengenakan akhirnya harus ditanggung oleh warga Muslim di sini, apalagi bagi mereka yang menggunakan atribut jilbab dan lainnya. Saya sendiri, pernah mengalami kejadian yang tidak mengenakan dari salah satu teman di sini beberapa saat setelah kejadian “Sydney Siege” tersebut berlangsung. Di tempat saya mengikuti kelas Zumba, para Ibu-ibu di kelas dan beberapa teman lainnya berniat untuk mengadakan acara berdoa bersama di sebuah Gereja terdekat dan mengajak saya untuk gabung. Ketika saya bilang bahwa saya Muslim dan akan berdoa menurut ajaran dan keyakinan saya untuk para korban, beberapa dari mereka langsung diam, hening dan tidak percaya kalau saya adalah seorang Muslim. Kemudian salah satu dari mereka bilang: “I cant believe that you’re a Muslim dear, how could your people do this to us?”, terus terang saya kaget dengan pernyataan salah satu teman Zumba tersebut. Saya gak nyangka akan dikasih pertanyaan (dan pernyataan) seperti itu. Sempat hening dan ngerasa “awkward“, sembari bingung juga kemudian saya hanya berkata “As a Muslim, I really didn’t want that to happen and I feel ashamed for that. They’re not Muslim, they’re just people who didn’t understand what Islam is”. Kemudian saya langsung permisi untuk pulang. Mereka juga gak komentar lagi, daripada tambah panjang urusannya. Aksi teroris ini benar-benar merusak image umat Muslim lainnya di sini. Tapi Alhamdulillah, sekarang semua sudah baik-baik saja antara saya dan teman tersebut.

Kampanye #I’llRideWithYou
Nah, I’ll Ride With You ini merupakan kampanye yang awalnya dimulai oleh salah seorang wanita di Sydney bernama Rachael Jacosb yang menceritakan pengalamannya ketika di kereta melihat wanita muslim secara diam-diam melepas jilbabnya karena takut akan diserang atau di-bully. Lalu dia menghampiri si wanita ini untuk tetap menggunakan jilbabnya dan menemani si wanita ini selama di perjalanan. Rachael menceritakan kisahnya ini di Twitter dan di-Retweet oleh orang-orang lain, yang akhirnya menjadi trending dan mendapat banyak sekali dukungan dari warga Australia kepada kaum Muslim agar tidak takut dan berani untuk terus merasa aman dan nyaman di sini.
Pasca kejadian di Lindf Cafe, juga sempat heboh dengan video yang beredar di salah satu akun sosmed yang isinya tentang society experiment terhadap kaum Muslim, terutama yang menggunakan hijab atapun peci dan atribut Muslim lainnya. Dari situ terlihat sekali kalau masyarakat di Sydney sangat menerima dan bahkan ada yang membela secara terang-terangan ketika salah satu wanita Muslim yang menggunakan jilbab dilecehkan dan di-bully . Jadi emang terbukti kampanye I’ll Ride With You ini sangat efektif dan bahkan saya sebagai Muslim sangat merasa nyaman dan aman. Bahkan teman-teman Indonesia di sini banyak juga yang berjilbab dan tidak ada masalah. Orang-orang di sini sangat modern dan meneirma perbedaan. Selain kampanye tersebut, ada lagi dukungan atau kampanye “Racism. It Stops With Me” yang intinya untuk semua warga Australia harus saling menghormati setiap etnis yang ada dan mendapatkan hak yang sama di area umum dan diharapkan tidak adanya hal diskriminasi .

Kampanye “Racism. It Stops With Me”
Yang Unik di Syndey. Tau kah? Kebanyakan orang-orang Australia itu sukanya nyeker…! Gak pake sendal atau pun sepatu, bebas aja gitu lenggang-kangkung masuk ke mall atau di coffeeshop, dan tempat umum lainnya. Alasan mereka: lebih nyaman dan menyatu dengan alam, ahahaha…! Mungkin karena di sini daerah alamnya khan masih banyak kali yaa 

“Nyeker”
Lalu awal-awal di sini (yaa sampai sekarang) masih suka bingung kalau denger logat merekakalau ngomong. Mana ngomongnya terkadang cepat dan banyak sekali istilah slang atau singkatan yang harus saya pelajari..! Mungkin karena saya lebih terbiasa dengan American-English. Contohnya nih : Arvo = afternoon, Banger/Snag = sausage, Chook = chicken , Hungryjack = Burger King, Pram = Stroller, Uni = University, dan “Yeewww…!!” = I hear a lot of Aussies saying this when expressing their excitement ;p, dan masih banyak lagi sebenarnya tapi belum terlalu update.

Australians sometimes say several words as one ‘Waddayareckon’ (what do you reckon?), “Owyagoin” (how are you going?) etc. This can be confusing for an overseas visitor but you can soon get used to it..!
Sama di sini banyak sekali snake catcher..! Terutama pas summer (Desember – Februari) sekarang ini. Seperti beberapa waktu yang lalu ketika kami mau ke pantai, ternyata beberapa area ditutup karena ada ular muncul di area park.. ! Pokoknya kalau ada mobil snack catcher berhenti, pasti di situ lagi ada ular berkeliaran ;p. Jadi yaa, balik lagi, gak jadi lewat daerah situ deh. Suka jadi parno kadang. Cuma biasanya hanya terjadi di daerah yang deket hutan kecil atau park yang lokasinya emang masih alam banget (national park). Sydney walaupun sudah “kota” banget, tapi buat sebagian wilayahnya ya masih alam banget, jadi hal-hal seperti ini (banyak ular) masih sering terjadi.

Snake Catcher beraksi
Festival di Sydney. Sejak pindah ke sini, kami sudah beberapa kali mengunjungi berbagai festival-festival yang diadakan di Sydney: Acara kuliner yaitu Night Noodle Market yang mayoritas standnya adalah kuliner makanan asia, sayangnya gak ada stand makanan Indonesia, hiks.

Suasana di Night Noodle Market – Hyde Park, Sydney
Ada juga ada Chocolate Festival yang kesemuanya tentang dessert dan coklat. Trus sebelumnya lagi, ketika winter kemarin ada Beer Festival di The Rocks.

La Maison De L’Eclair display window at Smooth Chocolate Festival
Bulan lalu, baru saja ada perayaan Australia Day (26 Januari) yang merupakan hari lahirnya Australia. Banyak banget acara seru; seperti balapan kapal-kapal/ferry, konser lagu oleh artis di tengah laut. Lalu touring museum yang masuknya gratis (yeay!!), karena sebagian museum kalau di hari biasa ada yang harus bayar. Dan juga acara anak dan keluarga untuk meet and greet tokoh kartun Nickeledeon, konser Hi5, dan bagi-bagi snack gratis dari salah satu brand biskuit terkenal di sini yaitu Arnott’s, pameran koleksi mobil antik, parade bus-bus antiknya kota Sydney yang sengaja dikeluarkan lagi buat sightseeing kota Sydney; cukup dengan membayar gold coin $1-$2 yang mana uangnya juga dipakai untuk perawatan bus-bus tersebut. Seru banget! :).

Australia Day Fireworks at Darling Harbour
Vintage Bus saat Australia Day
Yang terakhir kami datangi yaitu Sydney Festival saat musim panas, yang meliputi acara kuliner, seni, konser musik, dan pemutaran film-film asing. The best part-nya buat masuk ke acara-acara festival ini adalah free…!


No comments:
Post a Comment